oleh oleh khas jogja gudeng kaleng - pesanbakpia.com

Kelebihan Gudeg Kemasan Kaleng: Tahan hingga 1 Tahun Jika Disimpan Dalam Suhu Ruangan

Makanan khas Yogyakarta yang satu ini memang tidak dapat digantikan oleh jenis olahan pangan lainnya. Bagaimana tidak, selain memiliki citarasa bangsawan kerajaan, gudeg juga kaya akan nutrisi. Gudeg biasa dimakan bersama nasi hangat dan kuah santan yang kental atau areh, opor ayam kampung, telur, serta tahu dan sambal goreng krecek atau kulit sapi. Bahkan kekhasan gudeg juga bisa diupgrade dengan menggunakan nangka muda atau gori khusus yang berasal dari Prembun dengan citarasa yang berbeda.

Selain enak dan bergizi, gudeg juga dibanderol dengan harga yang terjangkau. Rata – rata harga gudeg hanya berkisar antara Rp7.000 sampai Rp30.000 per porsi. Tentunya harga tersebut sangat terjangkau bahkan kurang sepadan dengan lezatnya makanan manis legit yang satu ini. Gudeg tidak hanya bisa dimakan ditempat, tetapi juga bisa dibungkus sebagai oleh – oleh karena cukup tahan lama. Terutama, jika gudeg yang dipilih adalah gudeg kering dengan santan sangat kental.

Seiring dengan berkembangnya teknologi di bidang pangan, olahan gudeg juga dikemas dalam kaleng secara higienis, sehingga menghasilkan produk gudeg kaleng yang lebih tahan lama dan praktis dibawa kemana – mana. Hal ini sangat penting bagi kenyamanan dan keamanan isi gudeg karena bahan tersebut merupakan makanan yang akan dikonsumsi langsung oleh pembeli.

Gudeg kaleng memiliki keawetan yang lebih tinggi dari gudeg yang tidak dikalengkan. Karena sistem press nya yang bertekanan tinggi dan kerapatan kaleng, maka udara tidak akan bisa keluar masuk dan bisa lebih membuat kandungannya tahan lama. Dalam hal ini, isi gudeg kaleng tidak akan berubah rasa, warna, maupun kandungan gizinya.

Berdasarkan penelitian analisis kesehatan, kandungan gizi yang berada di dalam gudeg kaleng kurang lebih terdiri dari energi dengan bobot 160 kilokalori, vitamin B1 dengan bobot 0,15 miligram, protein dengan bobot 3,3 gram, karbohidrat dengan bobot 16 gram, zat besi dengan bobot 12,8 miligram, vitamin A dengan bobot 0 IU, kalsium dengan bobot 62 miligram, lemak dengan bobot 9,2 gram, serta fosfor dengan bobot 55 miligram.

Karena di dalam kaleng gudeg tidak berinteraksi dengan bakteri, cairan lain, dan bahan berbahaya, maka kandungan gizinya tidak berkurang. Kaleng yang dipilih adalah sesuai standar dengan proses sterilisasi tingkat tinggi. Selain itu, gudeg juga tidak akan busuk dan tahan sampai 1 tahun dalam suhu ruangan. Pastinya gudeg kaleng khas Yogyakarta bisa jauh lebih awet lagi dalam kulkas atau freezer.

Biasanya, konsumen memakan gudeg dengan nasi panas, sehingga karbohidratnya akan bertambah. Karbohidrat merupakan zat energi dan bis membuat stamina semakin kuat. Tidak hanya itu, lauknya berupa opor ayam kampung dan sambal goreng krecek juga mengandung lebih banyak protein hewani (dari ayam dan krecek), vitamin B (dari kacang – kacangan), serta lemak (dari santan).

Peran protein sangat baik bagi pertumbuhan sel. Jika yang memakannya anak – anak dalam jumlah yang normal, maka pertumbuhan badan dan otaknya akan berkembang secara optimal. Sehingga anak juga bisa menjadi lebih cerdas. Tidak hanya itu, nangka muda yang merupakan bahan utama gudeg kaleng mengandung senyawa albuminoid, zat antioksidan, serta karbohidrat.

Ada juga yang menambahkan kecap dari bahan kacang kedelai hitam dan cokelat yang mengandung vitamin B. Daging ayam lunak terutama yang berasal dari ayam kampung juga sangat baik bagi pertumbuhan tulang dan gigi pada anak – anak.

Selain sebagai media untuk mempertahankan citarasa dan kandungan gizi gudeg, keistimewaan gudeg kaleng yang tahan hingga 1 tahun dalam suhu ruangan adalah sangat berguna bagi promosi tradisi Indonesia. Gudeg merupakan olahan nangka yang sangat popular di mata dunia. Bukan hanya karena rasanya, tetapi juga sejarah yang ada dibalik nama “Gudeg” tersebut.

Professor Murdijati Gardjito, peneliti di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, menjelaskan bahwa makanan tradisional memiliki peranan yang sangat signifikan dalam swasembada pangan. Keistimewaan gudeg adalah bahannya yang sangat “Indonesia Sekali” sehingga bisa menjadi identitas bangsa.

Dalam buku “Gudeg Yogyakarta” yang menjelaskan banyak hal terkait makanan tradisional satu ini, Professor Murdijati Gardjito menjelaskan bahwa gudeg berawal sejak tahun 1500-an. Saat itu, istilah “Indonesia” masih belum ada, hanya sisa – sisa istilah “Nusantara” dari kerajaan Majapahit yang masih terasa. Gudeg mulai ada pada zaman kerajaan Mataram Islam yang berlokasi di Alas Mentaok, wilayah Kotagede.

Pada tahun itu, Kerajaan Mataram mengalami pembangunan, tepatnya di daerah Alas Mentaok. Karena pembangunan berlangsung besar – besaran secara tradisional, banyak pohon yang ditebang dan salah satu pohon yang dominan adalah nangka, kelapa, serta tangkil atau di beberapa daerah dikenal dengan nama melinjo.

Nangka muda yang disebut gori  atau  tewel banyak dihasilkan dari proses penebangan tersebut. Jika nangkanya sudah matang, mungkin bisa dimakan langsung. Tetapi karena pohonnya ditebang sebelum nangkanya matang, maka beberapa orang menemukan ide. Ide tersebut adalah dengan memasak nangka bersamaan dengan bahan – bahan yang banyak dihasilkan dari penebangan seperti kelapa serta daun melinjo.

Para pekerja juga turut andil dalam menciptakan menu baru tersebut secara masal. Karena, nangka merupakan salah satu buah yang menjadi favorit lalat sehingga sangat mudah busuk. Jadi para pekerja memasak olahan tersebut secara ekstra cepat dengan bahan yang ada sebanyak jumlah nangka muda. Akhirnya, jadilah makanan manis legit yang sampai saat ini terkenal dengan naa gudeg tersebut.

Nama gudeg sendiri berasal dari kata “hangudeg”. Pada saat awal pembuatannya, karena dimasak masal para pekerja menggunakan spatula besar yang mirip dengan dayung perahu getek. Karena itu, istilah “hangudeg” kemudian menjadi istilah khusus untuk memasak makanan tradisional ini.

Tidak hanya tertulis dalam sejarah Kerajaan Mataram Islam, gudeg juga terdapat dalam catatan Karya Sastra Jawa Serat Centhini. Pada tahu 1600-an, sesaat setelah Kerajaan Mataram Islam mempublikasikan gudeg, Raden Mas Cebolang yang sedang mengembara datang ke padepokan Pangeran Tembayat. Kurang lebih padepokan tersebut saat ini masuk wilayah Klaten.

Pada saat itu, Pangeran Tembayat menjamu Raden Mas Cebolang dan tamunya yakni Ki Anom dengan beberapa jenis makanan. Makanan yang disajikan sangat mengena dihati para tamunya karena rasa yang manis dan legit. Makanan itulah yang sampai saat ini diminati masyarakat seluruh Indonesia sebagai gudeg Yoygyakarta.

pesanbakpia.com - wisata kuliner gudegkaleng jogja bu lies Gudeg Kaleng Ayam Gudeg pesanbakpia.com Gudeg Kaleng Krecek pesanbakpia.com Gudeg kaleng bu lies

Jadi, sangat banyak hal yang menjadi keutamaan gudeg kaleng Yogyakarta. Jika zaman dahulu rasa dan kandungan gizi gudeg bisa berkurang atau berubah, saat ini sudah tidak. Selain itu, proses memperkenalkan gudeg Yoyakarta dan sejarahnya yang unik ke seluruh penjuru dunia saat ini juga sangat mungkin karena kemasan kalengnya praktis, awet serta mudah dibawa kemana – mana. Seseorang bahkan bisa mengekspor gudeg kaleng sebagai komoditi karena ketahanan dan proses pembuatan makanan kaleng satu ini yang sudah sesuai standar.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *